Picture Test

September 30, 2011 - 8:51 am No Comments

Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Silvia Kim Hyeon Suh Read the rest of this entry »

Sebaran Empirik Nilai EBTANAS Dan UMPTN

September 30, 2011 - 8:42 am No Comments

Salah satu syarat untuk memperoleh STTB, siswa SMTA harus mengikuti Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) yang diselenggarakan secara terpusat di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam prakteknya, Ebtanas sebagai salah satu persyaratan untuk bisa lulus SMTA hanyalah persyaratan formal. Andil nilai Ebtanas dalam menentukan lulus/tidaknya siswa sangat kecil. Setelah lulus SMTA, apabila siswa yang bersangkutan berminat masuk ke PTN, maka siswa tersebut harus mengikuti UMPTN.

Sumber: Masoem, Toemin A. . 1996. Sebaran Empirik Nilai EBTANAS Dan UMPTN. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

URL: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/809

IPB

September 30, 2011 - 8:22 am No Comments
Visi dan Misi IPB
 

Visi

‘‘Menjadi perguruan tinggi berbasis riset kelas dunia dengan kompetensi utama pertanian tropika dan biosains serta berkarakter kewirausahaan”

 

Misi

  • · Menyelengarakan pendidikan tinggi bermutu tinggi dan pembinaan kemahasiswaan yang komprehensif dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.
  • · Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan kecenderungan pada masa yang akan datang.
  • · Membangun sistem manajemen perguruan tinggi yang berkarakter kewirausahaan, efektif, efisien, transparan, dan akuntabel.
  • · Mendorong terbentuknya masyarakat madani berdasarkan kebenaran dan hak asasi manusia

Tujuan dan Moto

 

Tujuan

  • o Menguatkan sistem pendidikan dan kemahasiswaan dengan fokus menghasilkan lulusan yang kompeten, cerdas dan kompetitif.
  • o Meningkatkan jumlah dan mutu penelitian terintegrasi sehingga menghasilkan temuan ilmu pengetahuan, paket teknologi yang bermutu dan bermanfaat bagi masyarakat (swasta, pemerintah dan lainnya).
  • o Meningkatkan kesejahteraan dosen, tenaga penunjang, dan bantuan/subsidi bagi pendidikan mahasiswa.
  • o Meningkatkan kapasitas sumberdaya untuk membangun ketangguhan institut.
  • o Menguatkan sistem manajemen untuk menyempurnakan sistem manajemen institut dalam rangka mencapai kesehatan organisasi.

 

Motto

“Mencari dan Memberi Yang Terbaik”

SEJARAh

Tahap Embrional (1941-1963)

 

Institut Pertanian Bogor
Menuju Universitas Riset Embrional 2007

 

Pada tanggal 1 September 2003 Institut Pertanian Bogor (IPB) genap berusia 40 tahun. Sejarah perkembangan IPB dimulai dari tahapan embrional (1941-1963), tahap pelahiran dan pertumbuhan (1963-1975), tahap pendewasaan (1975-2000), tahap implementasi otonomi IPB (2000-2005) dan menuju tahap IPB berbasis Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang akan dimulai pada tahun 2006. Pada tahun 2007 secara embrional IPB diharapkan siap manjadi universitas riset.

Sejarah Kepemimpinan IPB dari masa ke masa adalah sebagai berikut :

1. Prof.Dr. Syarif Thayeb (Chairman of the Presidium of IPB 1963)
2. Prof.Dr.A.J. Darman (Chairman of the Presidium of IPB 1963)
3. Prof.Dr.Ir. Tb. Bachtiar Rifai (Rektor IPB 1964-1965)
4. Prof.Dr.Ir. Sajogyo (Rektor IPB 1965-1966)
5. Prof.Dr.j.h. Hutasoit (Chairman of the Presidium of IPB 1966)
6. Prof.Dr.Ir. Toyib Hadiwidjaja (Rektor IPB 1966-1971)
7. Prof,Dr.Ir. A.M. Satari (Rektor IPB 1971-1978)
8. Prof.Dr.Ir. Andi Hakim Nasution (Rektor IPB 1978-1987)
9. Prof.Dr.Ir. H. Sitanala Arsjad (Rektor IPB 1987-1996)
10. Prof.Dr.Ir. H. Soleh Solahuddin,M.Sc (Rektor IPB 1996-1998)
11. Prof.Dr.Ir. R.H.M. Aman Wirakartakusumah,M.Sc (Rektor IPB 1998-2002)
12. Prof.Dr.Ir. Ahmad Ansori Mattjik,M.Sc (Rektor IPB 2002-2007)
13. Dr. Ir. H. Herry Suhardiyanto, M.Sc. (Rektor IPB 2008-now)

Pertanian di Pematangsiantar- Silvia Laskar 33

August 16, 2011 - 7:19 am No Comments

Pertanian di Pematangsiantar

Pertanian di Pematangsiantar meliputi padi-padian, sayur-sayuran, tomat, wortel, jagung, jeruk, semangka, durian, dan lain-lain. Pertanian cukup mendominasi wilayah Pematangsiantar, dikarenakan mayoritas penduduk di Pematangsiantar berprofesi sebagai petani. Hasil pertanian di Pematangsiantar cukup melimpah, karena kebun dan sawah yang cukup luas. Namun, dikarenakan daerah Pematangsiantar yang cukup jauh dari ibukota provinsi Sumatera Utara mengakibatkan belum adanya kemajuan yang berarti di bidang pertanian di Pematangsiantar, seperti teknologi, pengetahuan mengenai benih unggul, dan lainnya. Pertanian di Pematangsiantar masih bersifat kedaerahan, yakni masih menggunakan tata cara yang diwariskan turun-temurun dari leluhur. Namun, tidak semuanya begitu. Ada pula petani di Pematangsiantar yang sebelumnya sudah pernah mengecap pendidikan yang cukup tinggi sehingga lebih memahami bidang pertanian dengan lebih baik. Adapula yang hanya mendapat pendidikan pas-pasan namun sering belajar dari petani lain sehingga dapat memanen hasil yang lebih baik.

Hasil-hasil pertanian di Pematangsiantar banyak yang dijual ke berbagai daerah, terutama Medan dan sekitarnya. Kota Pematangsiantar juga telah melakukan penataan struktur masyarakat petani dengan dibentuknya kelompok tani yang terdiri dari 67 kelompok tani yang sudah terdaftar pada dinas pertanian Kota Pematangsiantar dan juga gabungan kelompok tani (Gapoktan) dengan tujuan membantu meningkatkan akses kelompok tani untuk memanfaatkan fasilitas yang ada misalnya bantuan subsidi benih, subsidi pupuk, dan pelayanan perkreditan baik yang disediakan pemerintah maupun swasta. Kemudian sistem pertanian di Kota Pematangsiantar telah menerapkan pola tanam dengan susunan pertanaman atau pergiliran dari jenis tanaman pada jangka waktu tertentu biasanya dalam 1 tahun tetapi dapat juga ditentukan dari beberapa factor sehingga disaat penentuan jadwal tanam inilah peran serta dari kelompok tani bersama petugas penyuluh pertanian serta distributor pupuk membuat pengadaan kebutuhan pupuk dan benih yang diperlukan sesuai luas lahan yang diolah oleh petani.